Asuhan Keperawatan Asma Bronchiale

2

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 3/06/2010


By. SANCO IRIANTO A, S. Kep. Ns
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trachea dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Brunner and Suddarth, 2000; 611).

Asma adalah gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi (Arief Mansjoer, 2000; 476).

Asma adalah penurunan fungsi paru dan hiperresponsivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsang (Linda Juall Carpenito, 1999; 128).

Dari pengertian dapat disimpulkan bahwa asma adalah penyakit jalan nafas intermitten dan revesible dimana terjadi hiperresponsivitas yang melibatkan berbagai sel inflamasi.

Download file
lengkapnya disini mulai dari Landasan Teori sampai Asuhan Keperawatan, silahkan download gratis.....tis....tis...!

Read More...

Tanda-tanda Mulainya Toilet Training

0

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 3/05/2010

Aspek penting lain dalam perkembangan anak usia toddler yang harus mendapat perhatian orang tua adalah “ Toileting “ , Wong (2000) mengemukakan bahwa biasanya sejalan dengan kemampuan anak mampu berjalan, kedua sfingter semakin mampu mengontrol rasa ingin berkemih dan defekasi. Walaupun demikian, dari satu anak ke anak lain berbeda kemampuan dalam pencapaian tersebut, tergantung beberapa faktor baik fisik maupun psikologis.
Pelajaran menggunakan kamar kecil adalah suatu peristiwa besar didalam kehidupan seorang anak, kebanyakan anak siap belajar bagaimana cara menggunakan pot dan akan bangga dengan kemampuan mereka. Pelatihan kamar kecil paling mudah ketika anak secara fisik dan secara emosional sudah siap, yang mana terjadi antara umur 2-3 tahun.
Anak perempuan pada umumnya secara fisik mempunyai keuntungan lebih mampu mengontrol otot sfingter ani dan sfingter uretra dibandingkan anak laki-laki. Kebanyakan anak perempuan dapat menggunakan pot umur 2-2 tahun 6 bulan dan kebanyakan anak laki-laki sekitar 3 tahun. Rahasia kesuksesan adalah memilih waktu yang tepat dan memerlukan kesabaran, kesiapan emosional juga penting. Banyak anak normal, sehat dan cerdas umur 3 tahun tidak tertarik akan pelajaran untuk menggunakan kamar kecil.
Kemampuan sfingter untuk mengotrol rasa ingin defekasi biasanya lebih dahulu tercapai dibandingkan kemampuan sfingter uretra dalam mengontrol rasa ingin berkemih. Sensasi untuk defekasi lebih besar dirasakan oleh anak, dan kemampuan untuk mengkomunikasikannya lebih dahulu dicapai. Hasil riset menunjukkan rata-rata anak mulai dapat mengontrol pola defekasi dan berkemih antara umur 18 bulan-36 bulan.
Kebanyakan latihan diberikan selama empat sampai enam minggu, tapi kadang-kadang latihan ini membutuhkan waktu yang lama. Latihan ini tidak diperlukan untuk anak yang membutuhkan bantuan sampai usia 4-5 tahun.
Kebanyakan anak kecil yang baru belajar jalan dalam belajar toilet training tidak semudah saat mereka belajar berbicara, memanjat, melompat maupun berlari tetapi hal ini membutuhkan suatu kesiapan yang diperlihatkan oleh anak.
12 tanda yang diperlihatkan seorang anak sebelum memulai Toilet Training yaitu:
Read More...

Askep Benigne Prostat Hyperplasia

0

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 3/04/2010

A. PENGERTIAN
Benigne Prostat Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar/jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr. Soetomo, 1994: 193).
Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor: R. Syamsuhidajat, Wim De Jong - Edisi Revisi, Jakarta: EGC, 1998, hal: 1058).

B. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 (dua) faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut.
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang di duga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain:
Read More...

Nursing Management

0

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 3/01/2010

Manage
  • Able to do something 
  • Able to complete some task as instructed or self directed
Manager
  • A person who is in charge of getting something done
  • A person who is in charge of an area of the work force
  • Carries out managerial roles
Management
  • The art of getting things done
  • The technique of getting goal achieved
  • The way a person runs the organization
Management
A process both interpersonal and technical aspects through which the objectives of an organization (or part of it) are accomplished efficiently and effectively by using human, physical, financial, and technological resources
Read More...

Hati-hati Mengisap Puting Payudara Isteri

0

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 2/27/2010

Radang payudara, walaupun tak seberbahaya kanker payudara, wajib juga mewaspadainya. Apalagi bila suami Anda perokok atau tak peduli dengan kesehatan mulut. 
Meskipun kalah populer dengan kanker payudara, mastitis payudara juga wajib dikenali untuk upaya pencegahan karena jika sudah akut, bisa berakibat pengangkatan payudara. Istilah mastitis payudara berarti radang pada payudara. Gejalanya bermacam termasuk adanya benjolan di payudara. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya radang ini termasuk keberadaan kuman. 
Bila diumpamakan, payudara itu bagaikan pohon yang memiliki batang, dahan, dan ranting. Bayangkan saja betapa rumit jaringan pengikat, saluran, dan kelenjar penyusunnya. Oleh sebab itu baik pria atau wanita wajib menjaga bagian tubuh yang satu ini dengan baik untuk menghindari kemungkinan terjadinya mastitis. 
Tak hanya Anda pemilik payudara yang harus menjaga kebersihan, pasangan Anda pun mesti menjaga kesehatan mulut, jika ia terbiasa menghisap puting payudara saat berhubungan seks. 
Tiga Jenis Penyebab
Ada tiga jenis mastitis, yaitu:
  1. Mastitis periductal,
  2. Mastitis pueperalis, dan
  3. Mastitis supurativa.
Ketiga jenis mastitis ini muncul akibat penyebab yang berbeda dan muncul dalam kondisi yang juga berbeda. 
Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mamary duct ectasia, yang berarti pelebaran saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di payudara.
Read More...

Kenapa Nyamuk Tidak Menularkan AIDS? (Why Mosquitoes Cannot Transmit AIDS?)

0

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 2/26/2010

Topik ini pertama kali bermula dari laporan yang berasal dari suatu komunitas kecil di Florida Selatan yang berpendapat bahwa nyamuk memiliki peranan dalam menyebabkan tingginya korban AIDS di kawasan tersebut. Karena terlalu tergesa-gesa menerbitkan topik ini tanpa mencari informasi lebih jauh dari CDC (National Centers for Disease Control) maka masih banyak orang yang merasa bahwa nyamuk merupakan salah satu penyebab penularan AIDS dari satu individu ke individu lainnya.
Ada tiga teori mekanisme pengisapan darah oleh nyamuk yang biasa dijadikan alasan bahwa nyamuk dapat menularkan penyakit AIDS.
  1. Pada teori pertama, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV dan menelan virus tersebut bersama darah si penderita. Setelah kenyang, nyamuk ini kemudian pulang ke sarangnya, tanpa pindah ke korban selanjutnya. Virus yang terhisap ini masuk ke dalam tubuh, dan bertahan dalam tubuh nyamuk tersebut, virus kemudian berkembang biak dan setelah itu pindah ke dalam kalenjar air liur (salivary gland). Nyamuk yang terinfeksi HIV ini kemudian mencari korban selanjutnya untuk dihisap darahnya. Korban selanjutnya ini bisa saja seseorang yang bersih dari HIV, namun saat nyamuk menghisap darah orang ini virus HIV yang ada dalam kalenjar air liur nyamuk tersebut ikut masuk ke dalam tubuh orang tadi. Mekanisme yang pertama ini digunakan oleh sebagian besar parasit dalam nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dan sejenisnya.
  2. Pada teori kedua, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV, namun belum kenyang mengisap ia sudah terbang karena terganggu. Daripada kembali ke korban yang pertama tadi, nyamuk memilih korban lain yang mungkin bebas dari AIDS. Setelah nyamuk tadi menusukkan mulutnya ke dalam kulit korbannya ini, nyamuk ini akan menularkan virus yang masih ada dalam mulutnya ke korbannya ini. Mekanisme ini termasuk mekanisme yang tidak lazim dalam infeksi parasit melalui nyamuk.
  3. Teori ketiga mirip dengan teori kedua, dimana saat nyamuk mengisap darah korbannya yang mengidap HIV tiba-tiba ia diganggu dan kemudian terbang untuk mencari korban kedua. Namun dalam teori yang ketiga ini, tiba-tiba nyamuk tadi dipukul oleh si korban, dan kemudian darah nyamuk yang telah terkontaminasi HIV ini masuk ke dalam luka si korban tadi.
Masing-masing dari mekanisme ini telah diselidiki dan diteliti dengan menggunakan berbagai macam serangga pengisap darah, dan hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS.
Read More...

Peran Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Keamanan

1

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in | Posted on 2/24/2010

Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan keamanan dapat berperan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung perawat dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami masalah terkait dengan ketidakterpenuhinya kebutuhan keamanan. Adapun peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan keamanan adalah sebagai berikut:
  1. Pemberi Perawatan Langsung (care giver); perawat memberikan bantuan secara langsung pada klien dan keluarga yang mengalami masalah terkait dengan kebutuhan keamanan.
  2. Pendidik; perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga agar klien dan keluarga melakukan program asuhan kesehatan keluarga terkait dengan kebutuhan keamanan secara mandiri, dan bertanggung jawab terhadap masalah keamanan keluarga.
  3. Pengawas Kesehatan; perawat harus melakukan ”home visit” atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kebutuhan keamanan klien dan keluarga.
  4. Konsultan; perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah keamanan keluarga. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat maka hubungan perawat-keluarga harus dibina dengan baik, perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya.
  5. Kolaborasi; perawat juga harus bekerja sama dengan lintas program maupun secara lintas sektoral dalam pemenuhan kebutuhan keamanan keluarga untuk mencapai kesehatan dan keamanan keluarga yang optimal.
  6. Fasilitator; perawat harus mampu menjembatani dengan baik terhadap pemenuhan kebutuhan keamanan klien dan keuarga sehingga faktor risiko dalam ketidakpemenuhan kebutuhan keamanan dapat diatasi.
  7. Penemu Kasus/Masalah; perawat mengidentifikasi masalah keamanan secara dini, sehingga tidak terjadi injuri atau risiko jatuh pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan keamanannya.
  8. Modifikasi Lingkungan; perawat harus dapat memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat dalam menunjang pemenuhan kebutuhan keamanan.
Source: Perawat Indonesia & HIPERCCI
Read More...